Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,
yang melengking hening karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
Dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,
yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini, kau menjelma seekor burung gereja,
yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana
yang berjingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu,
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya, di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bertahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

Aku mencintaimu,
itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

the poem by Sapardi Djoko Damono

______________________________________________________

entah saya sedang dangdut atau entah kenapa, di hadapan saya puisi ini sungguh sangat sakral, kata-katanya pun indah, mengingatkan bahwa saya sudah bukan anak kecil lagi

cara saya berdoa pun bukan lagi dengan menghafalkan doa yang sudah diajarkan guru mengaji, tetapi dengan kata-kata yang dibuat dari hati dan mulut sendiri, tentunya dengan pilihan katanya yang indah, dengan penuh ketenangan, di waktu-waktu terbaik, subuh, menjelang sore, tengah malam dan ketika hujan turun